Copyright © The Root of Learning
Design by Dzignine

The Root of Learning

Adalah blog tentang semangat belajar seorang anak. Dalam blog ini kami dokumentasikan petualangan belajar, kurikulum, dan materi belajar yang kami gunakan. Belajar tak mengenal batasan.
Thursday, May 23, 2013

Empat Langkah Maju Untuk Masa Paperless


YAY! Ini lo yang kami cita-citakan dari dulu, yaitu sebuah perangkat komputer yang bisa membuat kami paperless. Kami menggunakan Ultra Mobile PC, dengan OS Windows, dan menggunakan Adobe Reader XI. Dengan software ini anak kami bisa menulis jawaban di touch screen-nya menggunakan pen-nya lalu menge-save hasil corat-coretnya itu di harddisk, sehingga tidak hilang.

Lega rasanya bisa menemukan software dan hardware yang seperti ini. Dengan begini, kami jadi punya banyak keuntungan, yaitu :

  • Menghemat pemakaian kertas, yang artinya kami mengurangi penebangan pohon.
  • Mengurangi penumpukan kertas di rumah, yang artinya kami bisa memiliki space yang lebih di rumah kami yang mungil.
Mau mengikuti jejak kami?
Monday, April 29, 2013

Jadi, Ada Berapa Macamkah Bentuk-bentuk di Permukaan Bumi?

Geografi kali ini sangat menarik. Kami belajar berbagai bentuk permukaan bumi. Yang kami pelajari kali ini ada 24 jenis. Entah apakah masih ada lagi jenisnya? Tapi 24 jenis ini sudah membuat kami amazed. Ada banyak istilah baru yang kami dapat : peninsula, gulf vs bay, mesa, strait, dan isthmus.

Seperti tampak pada gambar di bawah ini, beginilah cara belajarnya : kartu bergambar dan berdefinisi dipasangkan pada kartu namanya. Materi ini kami dapat dari Great Map Games yang dipublikasikan oleh Scholastic Teacher Express.


Selain Geografi, kami juga belajar Math. Math kali ini dari 50 Fill-in Math Word Problems seri Algebra Readiness yang juga diterbitkan oleh Scholastic Teacher Express. Sebetulnya seperti soal cerita biasa, namun soal ceritanya harus dilengkapi sendiri oleh anak. Selain mengurai persoalan matematika, worksheet ini juga mengajak anak berimajinasi dalam membuat isiannya, sekaligus juga mengajak anak belajar bahasa Inggris tentang adjective, noun, plural noun, dsb.


Kedua worksheet ini sangat bagus menurut saya, dan sesuai untuk panduan belajar anak saya. Keduanya sangat interaktif, memadukan banyak aspek belajar.

Selain kedua subject tersebut, kami juga belajar Science, tentang Habitat. Diambil dari Nonfiction Read & Write Booklets Science yang juga diterbitkan oleh Scholastic Teacher Express. Walaupun anak saya sudah banyak belajar tentang habitat, but it's ok untuk me-refresh dan mempertajam ingatannya kembali tentang habitat.

Wednesday, March 6, 2013

Huruf Besar - Huruf Kecil

Anak memang cenderung meniru orang tuanya dalam banyak hal.

Termasuk dalam membuat tulisan. Saya punya kecenderungan menulis dengan huruf besar semua. Karena, kalau saya menulis, itu artinya saya harus menulis di form resmi, yang aturannya adalah harus huruf kapital semua, atau di kertas kecil untuk daftar belanjaan yang sama sekali tidak resmi, boleh di tulis dengan cara suka-suka. Untuk tulisan yang menuntut kesesuaian dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), saya selalu menggunakan keyboard, diketik. Nah, jadi saya memang terbiasa menulis dengan huruf kapital semua.

Celakanya, kebiasaan "buruk" ini ditiru anak. Dia sulit menulis dengan huruf besar-kecil sesuai aturan EYD. Tulisannya cenderung huruf kapital semua seperti saya. Suatu hari, saya mendapati dia menempuh ujian Englishnya dengan menulis menggunakan huruf kapital semua. Waduh! Saya kena tampar niy! Ini gak boleh dibiarkan berlanjut hingga jadi kebiasaan yang sulit diubah.

Akhirnya, tiap kali dia mau belajar di kursus Englishnya, saya selalu mengingatkan untuk menulis dengan huruf besar-kecil sesuai aturan EYD. Namun, saya hanya mengingatkan dia tentang hal ini sekitar 2-3 kali pertemuan kursus, selanjutnya tidak lagi. Dan hari ini, ketika hari bahasa, saya mendapati dia membuat karya tulis (tangan) dengan huruf besar-kecil. Ternyata, tidak perlu kebanyakan mengingatkan, anak sudah bisa membentuk kebiasaan baiknya, asalkan cara mengingatkannya pun mengena. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan menunjukkan konsekuensinya jika kebiasaan buruk itu terus dilakukan.

Anak memang memiliki banyak sekali kebaikan, jika kita pun penuh kebaikan padanya.
Sunday, February 24, 2013

Ketika Kekaguman Itu Didepan Mata

"Oma, cucunya sudah bisa cuci piring makannya sendiri loh!"
"Oiya? Wah hebaaaat....!"
"Jangan gitu.... Aku tidak mau dikagumkan!"

Itu adalah dialog tadi pagi, ketika anak saya sedang cuci piring makannya dan omanya baru mengetahui bahwa dia sudah bisa cuci piring sendiri. Reaksi anak kami ini ternyata mengundang tawa tersembunyi dari sang oma, karena kami sebetulnya sudah sadar bahwa anak kami ini bukan type anak yang suka dibangga-banggakan, dipamerkan, atau diberi reaksi kekaguman. Tapi walaupun sudah tahu, kami masih sering lupa tentang hal ini. Bukan dengan sengaja kami lupa. Tapi sebetulnya dibalik itu semua kami ingin mengapresiasi prestasi barunya.

Tiap anak memang beda. Ada anak yang membutuhkan apreasiasi dari orang lain, suatu bentuk penghargaan yang membuatnya merasa berhasil. Tapi ada juga anak yang tidak ingin demikian, mereka hanya ingin bisa melakukan sesuatu tanpa harus dipamerkan atau diapresiasi secara berlebih, seperti anak saya.

Tampaknya, jika saya amati dari perilaku teman sebayanya, ini berkaitan erat dengan apresiasi yang didapat anak sejak anak baru dilahirkan. Ada kecenderungan haus akan apresiasi kebanggaan pada anak-anak yang merasa "kurang apresiasi" sejak dia masih bayi. Kurang merasakan kebanggaan orang tua ketika dia mencapai suatu prestasi sejak bayi.

Terus terang anak saya sejak bayi sudah banyak mendapatkan perhatian dan apresiasi, hingga sekarang yang terjadi adalah dia suka memberi perhatian pada orang lain dalam bentuk berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Seperti ketika saya butuh bantuan dia dalam mengurangi beban cuci piring saya, dia dengan senang hati belajar mencuci piring makannya. Bukan dengan maksud supaya dia mendapat ekspresi kagum, tapi supaya dia bisa memenuhi kebutuhan saya.

Nah, inilah yang akan orang tua rasakan sebagai efek positif dari pemberian kasih sayang kita pada anak sejak dia dikandung. Anak tidak butuh pemenuhan materi secara berlebihan. Anak juga tidak butuh ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Anak hanya butuh keterlibatan kita ketika dia membutuhkan kita. Dan perasaan "membutuhkan" ini seringkali tak bisa dia ucapkan langsung, dibutuhkan kepandaian kita mengenali tiap ekspresi anak. Dan kepandaian ini hanya bisa kita dapat ketika kita benar-benar in-touch dengan kehidupannya, tidak menyingkirkan anak demi gadget maupun demi pekerjaan.

Siapkah kita belajar menyingkirkan ego demi anak? Hanya anda yang bisa menjawab. Saya harap secara tulus dan komitmen orang tua bisa melakukannya. Karena sebelumnya anak telah dititipkan Tuhan pada kita, dan kedepannya mereka adalah pengusaha bumi ini, serta bakal pengasuh kita ketika kita telah uzur. Pasti kita nanti ingin diasuh dengan tulus dan baik kan?
Tuesday, February 5, 2013

Map-ography dan Makanan Sehat

Kemarin saya terlalu sibuk, sehingga setelah belajar, tidak bisa langsung blogging hasil belajar kemarin, pagi ini baru bisa blogging. Kemarin kami belajar geografi dan science (kami memutuskan tidak menggunakan istilah "sains", adalah lebih pas jika menggunakan istilah "ilmu pengetahuan alam" jika memang harus memakai bahasa Indonesia).

Untuk geografi, kami belajar dari Fun To Solve Map Mysteries. Ebook ini mengajak anak belajar tentang peta melalui misteri-misteri yang harus dipecahkan. Menarik, anak pun suka. Tema kali ini, adalah tentang seorang surfer yang kehilangan surfboard-nya. Anak diminta memecahkan misteri ini melalui lambang-lambang yang ada di peta.



Dari aktivitas ini, anak belajar tentang simbol-simbol yang ada di peta. Belajar dengan konsep seperti ini sangat menarik bagi anak saya, karena melibatkan aktivitas seperti detektif. Oiya, karena sudah beberapa kali mendapat pelajaran geografi dengan metode ini, anak saya pun jadi suka main detektif, dia catat segala hal yang dia anggap misteri, lalu dia catat juga fakta-fakta tentangnya. Sungguh mengasyikkan!

Tidak jauh berbeda dengan geografi, science kemarin materinya kami ambil juga dari Scholastic Teacher Express, yaitu The Body Book. Kali ini adalah tentang panca indera, fungsi dan pemeliharaannya.


Melalui menggunting dan menempel anak belajar tentang berbagai panca indera, bagaimana fungsi dan kerjanya secara umum. Saya secara khusus juga menambahkan cara pemeliharaan panca indera tersebut, yaitu melalui makanan sehat, dan apa saja yang harus dihindari untuk memelihara kesehatannya.

Ebook-ebook ini sangat menarik, karena tidak hanya memberikan materi pembelajaran, tapi juga memberi petunjuk tentang pengembangan pembahasannya. Hari belajar formal kemarin, kami lalui selama kurang lebih setengah jam, dengan pembahasan yang sangat efektif, dan keterlibatan anak yang sangat aktif.