Copyright © The Root of Learning
Design by Dzignine

The Root of Learning

Adalah blog tentang semangat belajar seorang anak. Dalam blog ini kami dokumentasikan petualangan belajar, kurikulum, dan materi belajar yang kami gunakan. Belajar tak mengenal batasan.
Wednesday, December 4, 2013

Nilai Ulangan Atau Ujian Bukan Hanya Penghias Raport/Ijazah

Benar, ujian/ulangan adalah alat ukur, yaitu alat ukur bagi saya sebagai tutor bagi anak saya, tentang sejauh mana penyampaian materi oleh saya dipahami oleh anak, dan sejauh mana anak telah memahami materi tersebut. Dari hasil ujian, saya bisa mengetahui perlu atau tidaknya suatu materi dipelajari ulang, atau apakah bisa kami lanjut ke materi berikutnya.

Dengan prinsip yang seperti ini, Ada dua macam ujian yang bisa (bukan harus) kami tempuh, yaitu ujian per hari berupa soal untuk dikerjakan secara mandiri, dan ujian per subject, yaitu ketika anak menyelesaikan satu subject pelajaran. Ujian jenis pertama berguna untuk melihat pemahaman anak pada materi pelajaran yang diberikan saat itu, ujian jenis kedua berguna untuk melihat apakah pemahaman anak sudah masuk dalam long term memory-nya. Melalui ujian jenis pertama saya bisa mengevaluasi, apakah cara saya menyampaikan materi itu sudah benar atau belum, jika belum maka akan saya tindak lanjuti dengan pengulangan pemberian materi dengan cara yang berbeda yang lebih sesuai dengan anak. Sedangkan dari ujian jenis kedua kita bisa melihat kesiapan anak dalam mengintegrasikan seluruh pengetahuannya untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi.

Dengan penerapan-penerapan ujian berbasis prinsip-prinsip tersebut, maka nilai yang didapat tidak hanya angka-angka penghias buku raport. Tapi mewakili seluruh evaluasi belajar. Selama ini yang saya rasakan, ketika menilai materi matematika, science, dan bahasa, penilaian mudah saja dilakukan, mengapa? Karena anak juga dengan mudah menunjukkan tingkat pemahaman untuk materi-materi ini. Sedangkan untuk beberapa materi seperti IPS, anak sulit memahaminya tanpa menghafal. Apa yang kami harap dalam proses home education itu bukanlah semata anak menghafal materi pelajaran tanpa memahaminya. Seperti misalnya pelajaran tentang nama-nama menteri, ini sering kami skip pemberian ujiannya.

Kesimpulannya, dalam memberikan ujian atau ulangan, saya tidak akan berpusat pada keberhasilan anak, tapi pada kebermanfaatan ujian/ulangan tersebut bagi proses belajar anak selanjutnya. Dengan begitu, ujian bukanlah menjadi sarana berbuat curang, bukan sarana untuk melakukan apapun demi nilai baik. Hasil ujian atau ulangan itu mengandung evaluasi bagi kedua pihak penyelenggara pendidikan : guru dan murid.
Wednesday, September 18, 2013

Belajar Tanpa Kurikulum? Bisa!

Skeleton... tulang... hmmm... saya sempat membaca materi anak kelas 4 SD dengan kurikulum nasional tentang IPA. Yang disajikan adalah tentang nama-nama tulang. Lalu, pertanyaan di soal-soalnya juga seputar nama tulang. Pada intinya, anak diminta untuk menyebutkan nama-nama tulang yang menyusun (misalnya) tulang tangan.... waduh maaaaak.... ini bukannya tugas mahasiswa kedokteran ya? Menurut saya, ini belum waktunya diberikan di tingkat SD.

Ya sudahlah.. biarlah kurikulum itu ya kurikulum itu... anak saya kan belajarnya tidak diarahkan kurikulum yang itu. Kami memutuskan untuk memberikan pengetahuan tentang tulang mulai dari awal, dari fungsi tulang itu sendiri. Lalu penyesuaian bentuk dan struktur tulang terhadap lingkungan hidup makhluk yang bersangkutan, misalnya ikan bentuk dan struktur tulangnya akan beda dengan burung karena cara hidup dan lingkungan hidupnya beda. Begitu juga beda antara hydrostatic skeleton dan cytoskeleton. Semua ini kami pelajari dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Skeleton. Nanti baru akan berlanjut ke tahap yang lebih detail lagi tentang tulang.

Selain science, hari ini kami belajar geografi. Materi yang kami pilih adalah angin dan tekanan udara. Materi ringan namun dibutuhkan anak, asalnya untuk menjawab pertanyaan: kenapa telinga kita sakit kalau kita bepergian ke gunung? Nah inilah kurikulum kami sebetulnya, yaitu kurikulum yang diarahkan pada pertanyaan anak. Kami ambil materi dari link ini : http://www.kidsgeo.com/geography-for-kids/0081-atmospheric-pressure.php

Lalu dilanjutkan dengan matematika, tetap setia dengan CIMT. Ada satu soal menarik, yaitu : anak diberikan angka ratusan, angka ini adalah selisih dari angka-angka lain yang diletakkan dalam posisi bertebaran, dan angka-angka lain itu harus dicari pasangannya yang jika dikurangi hasilnya adalah angka yang diberikan di awal tadi. Ribet? Nggak juga siy... hehehe :D

Keep on learning! ^_^
Thursday, July 18, 2013

Belajar Geografi Dan Science Sekaligus Dalam Satu Topik



Hari ini kami belajar geografi, science, dan math. Dalam daftar ujian paket, sebetulnya geografi belum ada, tapi karena kami tidak mengacu di kurikulum nasional saja, maka kami memasukkan geografi dalam pembelajaran anak di tingkat SD ini.

Geografi kali ini kami ambil dari National Geographic Education dari website ini kami belajar tentang map, peta interaktif untuk berbagai kategori. Peta kependudukan, sumber daya alam, iklim, juga pencemaran. Dari pembelajaran ini kami jadi paham tentang posisi Indonesia ditinjau dari aspek-aspek di atas, terhadap negara-negara lain di dunia. Dan kami memahaminya melalui image, grafik! Disinilah keuntungannya belajar melalui image, lebih mudah bagi anak kami untuk mengingat dan memahami daripada jika melalui tulisan, karena anak kami termasuk pembelajar visual.

Untuk science, kami belajar dari Planet Pals tetap pada tema green environment, bagaimana me-recycle, melestarikan bumi. Anak kami belajar tentang precycle, yaitu merecycle sebelum menggunakan, artinya : mengurangi penggunaan barang yang bahannya berbahaya untuk alam.

Kedua pelajaran ini, antara geografi dan science, ada saling keterpautan tema. Anak kami merasa sedang belajar satu mata pelajaran saja, padahal sudah dua mata pelajaran dia pelajari. Setelah itu kami belajar math, masih tetap dengan topik estimation dan soal cerita yang terkait dalam topik ini. Ketiga pelajaran ini ditempuh anak hanya dalam waktu 1 jam dengan efektif. Jadi masih banyak waktu untuk main games dan berkreasi ^_^
Wednesday, July 17, 2013

Tahun Ajaran Baru

Saat ini kami sedang menyambut tahun ajaran baru. Tanpa MOS, tanpa membeli buku baru, tanpa membuat seragam baru, tanpa mempersiapkan ruang kelas baru. Walau demikian, sebenarnya saya ingin menyambut tahun ajaran baru dengan printer baru. Karena printer kami yang lama sudah agak rewel.

Saat ini anak kami sudah setara dengan kelas 4 SD. Seharusnya dua tahun lagi dia mendapatkan ujian kenaikan tingkat dari SD ke SMP. Tapi karena peraturan diknas yang baru, yang mewajibkan anak usia 13 tahun menjalani ujian paket, maka anak saya baru 4 tahun lagi mendapatkan kenaikan tingkatnya. But that's okay, saya tidak mementingkan ijazah. Kalau bisa didapat ok kami akan mendapatkannya, tapi jika tidak maka kami juga tidak akan bersusah payah dalam mendapatkannya. Karena bagi kami proses belajar itu yang terpenting.

Oiya, peraturan di atas itu berlaku jika kami ingin ijazah nasional, disamping itu sebetulnya yang utama bagi kami adalah mengikuti kurikulum CIE, dan mengikuti ujian dari CIE.

Singkat kata, tahun ajaran baru ini membawa kami pada perubahan besar dalam hal pencatatan portofolio home education kami. Kami harus lebih terorganisir, lebih tertib mencatat, dan lebih tertib administratif. Wew... ini sebuah PR yang berat! Hahaha... apa boleh buat, kami harus menjalaninya jika ingin anak siap dalam menempuh ujian nantinya.
Friday, May 31, 2013

Melangkahkan Kaki Menuju Tahapan Home Education Selanjutnya

Sungguh suatu kebahagiaan, ketika home education kami sudah memasuki tahap demi tahap, hingga sudah waktunya anak kami mempersiapkan diri untuk ujian persamaan. Setiap langkah ini kami lakukan dengan mandiri, tanpa dukungan lembaga homeschool mana pun. Malahan, dalam setiap langkah kami selalu terbuka untuk membantu keluarga home education yang membutuhkan sharing dari kami. Sungguh perjalanan yang luar biasa!

Kali ini, untuk ujian persamaan anak, saya membutuhkan bantuan dari lembaga pendidikan yang bernama PKBM. Oiya, ini untuk ujian persamaan di tingkat nasional, sedangkan untuk tingkat internasional akan dijalani nanti jika sudah siap, bersama lembaga yang menyediakan ujian CIE.

Kemarin saya telah mengunjungi PKBM di Surabaya, dan telah mendapat penjelasan tentang prosedurnya. Dari obrolan ini, saya pikir, PKBM ini bersih, tidak sekedar jualan ijazah, atau sekedar pasang tarif yang "aduhai". Tarifnya masih masuk di akal, prosedurnya juga tidak main-main. Saya pikir, saya telah datang ke tempat yang tepat.

OK, kami siap menjalani hari-hari selanjutnya dengan penuh perencanaan dan sistem yang lebih terstruktur. Home education kami telah memasuki masa dimana kami tak lagi sekedar memikirkan tentang field trip, sosialisasi, isu-isu ketidakmampuan mendidik, isu-isu kebimbangan tentang prosedur ujian persamaan, dan isu-isu lain yang dihadapi keluarga home education dengan anak yang masih kecil.

Kami lebih siap, lebih serius, dan lebih memikirkan masa depan. Hal-hal yang tidak kami perlukan akan kami eliminasi. Jika bukan kami sendiri yang bertindak, maka siapa lagi yang akan bertindak untuk kami? Hanya Tuhan saja!