Copyright © The Root of Learning
Design by Dzignine

The Root of Learning

Adalah blog tentang semangat belajar seorang anak. Dalam blog ini kami dokumentasikan petualangan belajar, kurikulum, dan materi belajar yang kami gunakan. Belajar tak mengenal batasan.
Thursday, October 16, 2014

YAY! Kami Akan Camping Lagi!

Kami akan segera berangkat camping lagi!

Persiapan sudah dilakukan: sewa tenda camping, cek kompor, sewa matras, sewa sleeping bag, merencanakan makanan selama di sana. Bahkan kami juga sudah membeli "lifestraw" untuk sarana penyaring air minum kami, supaya tidak perlu membawa minum air banyak-banyak. Tiap camping kami usahakan untuk tidak membawa barang terlalu banyak. Kami benar-benar ingin belajar hidup seminim mungkin, sebisa kami.

Untuk peralatan mandi pun kami bawa yang secukupnya sehingga ketika pulang sudah tak terbebani oleh pasta gigi, sabun, dan shampoo sisa. Syukurlah, anak kami termasuk tidak rewel makannya, sehingga dia bisa makan apapun yang kami sediakan, termasuk yang kami rancang untuk dimasak ketika camping. Kali ini saya bekerja sama dengan beberapa ibu untuk mengelola dapur umum, namun walau begitu, tetap saja kami harus bawa ransum sendiri.... kawatir kalau jatah dapur umum gak cukup! Tahu sendiri kan... udara dingin, plus aktivitas padat, tentu kami butuh makanan yang cukup, maksudnya 'cukup banyak'! Hihihihi.....

Tiada kesan tanpa jurnal! Itu selalu yang saya utamakan dalam setiap pengalaman belajar anak kami. Dengan jurnal, kami bisa menuangkan kesan dan ingatan selama camping, selain itu juga melatih kemampuan menulis dan seni. Oleh karenanya, saya membuat form "Catatan Campingku" untuk mencatat aktivitas selama camping. Tapi maaf, kesempatan mendapatkan ebook ini secara gratis sudah berlalu. 

Ini loh covernya :

Cakep kan covernya... saya gambar sendiri loh! Di sudut kiri bawah ada logo Klub Sinau, karena acara campingnya memang dengan teman-teman Pramuka Klub Sinau. Dalam ebook ini ada word cards, coloring sheet, camping notebooking, frame foto, dan catatan resep masakan. 
Sunday, October 5, 2014

Mengikuti Ujian Cambridge Young Learner English (YLE)

Sudah lama kami tidak menulis kisah diblog ini. Selama ini kami mengalami masa-masa belajar yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Kami mempersiapkan diri mengikuti berbagai ujian, antara lain ujian Cambridge YLE dan ujian nasional yang akan digelar tahun depan.

Untuk ujian nasional tentu saja kami harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari, karena sebelum ini anak kami tidak pernah mempelajari mata pelajaran sesuai kurikulum nasional. Dia belajar apa yang ada di pelajaran IPS, tapi tidak seperti runtutan yang ditetapkan kurikulum nasional. Dia juga belajar bahasa Indonesia, tapi tidak dengan cara yang diatur oleh kurikulum nasional. Oleh karena itu dia harus mempelajari ulang.

Walaupun begitu dia tidak tampak kesulitan. Kesulitan hanya dia rasakan di pelajaran kewarganegaraan (PPKn). Kami masih struggling di hafalan-hafalan pelajaran ini. Kadang saya merasa sedikit iri dengan metode belajar kurikulum luar negeri yang terkenal. Buku-buku sejarah, metode belajar kewarganegaraan, dan buku-buku geografi mereka susun sedemikian rupa sehingga menyenangkan untuk dipelajari. Andaikan saya punya banyak waktu, saya pun akan membuat yang begitu untuk anak saya.. sayangnya kenyataan berkata lain. Ini membuat anak saya lebih gampang mempelajari sejarah dan kewarganegaraan bangsa lain daripada negaranya sendiri.

Baiklah, itu tentang persiapan ujian nasional. Ada satu ujian tingkat internasional yang sudah diikuti anak saya, yaitu Cambridge YLE (Young Learner English). Ujian ini memiliki 3 tingkatan : Starter, Mover, dan Flyer. Anak saya mengikuti yang Mover. Tidak ada persiapan khusus menjelang ujian. Saya hanya menunjukkan contoh test di web Cambridge, yang meliputi test reading & writing, listening, dan speaking. Persiapan lainnya adalah membawa peralatan tulis khas ujian (pensil 2B, penghapus), dan pensil 12 warna (bukan crayon atau spidol).

Anak saya mengikuti ujian Cambridge YLE ini di tempat kursus bahasa Inggrisnya, EF (English First). Sebenarnya tidak harus jadi siswa EF untuk mengikuti ujian ini, kandidat (peserta ujian) dari luar EF juga diperbolehkan. Waktu itu kami merogoh koceh sebesar Rp. 350.000 untuk mengikuti ujian ini. Menurut kami ini tidak mahal untuk ujian sekelas Cambridge YLE.

Bagaimana hasilnya? Lumayanlaaah.... hehehe... hampir sempurna, hanya kurang 1 poin di Speaking. Nah, anak yang tidak bersekolah pun bisa mendapatkan ijazah tingkat internasional, mau homeschooling? Siapa takut?



Wednesday, December 4, 2013

Nilai Ulangan Atau Ujian Bukan Hanya Penghias Raport/Ijazah

Benar, ujian/ulangan adalah alat ukur, yaitu alat ukur bagi saya sebagai tutor bagi anak saya, tentang sejauh mana penyampaian materi oleh saya dipahami oleh anak, dan sejauh mana anak telah memahami materi tersebut. Dari hasil ujian, saya bisa mengetahui perlu atau tidaknya suatu materi dipelajari ulang, atau apakah bisa kami lanjut ke materi berikutnya.

Dengan prinsip yang seperti ini, Ada dua macam ujian yang bisa (bukan harus) kami tempuh, yaitu ujian per hari berupa soal untuk dikerjakan secara mandiri, dan ujian per subject, yaitu ketika anak menyelesaikan satu subject pelajaran. Ujian jenis pertama berguna untuk melihat pemahaman anak pada materi pelajaran yang diberikan saat itu, ujian jenis kedua berguna untuk melihat apakah pemahaman anak sudah masuk dalam long term memory-nya. Melalui ujian jenis pertama saya bisa mengevaluasi, apakah cara saya menyampaikan materi itu sudah benar atau belum, jika belum maka akan saya tindak lanjuti dengan pengulangan pemberian materi dengan cara yang berbeda yang lebih sesuai dengan anak. Sedangkan dari ujian jenis kedua kita bisa melihat kesiapan anak dalam mengintegrasikan seluruh pengetahuannya untuk memahami dan menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi.

Dengan penerapan-penerapan ujian berbasis prinsip-prinsip tersebut, maka nilai yang didapat tidak hanya angka-angka penghias buku raport. Tapi mewakili seluruh evaluasi belajar. Selama ini yang saya rasakan, ketika menilai materi matematika, science, dan bahasa, penilaian mudah saja dilakukan, mengapa? Karena anak juga dengan mudah menunjukkan tingkat pemahaman untuk materi-materi ini. Sedangkan untuk beberapa materi seperti IPS, anak sulit memahaminya tanpa menghafal. Apa yang kami harap dalam proses home education itu bukanlah semata anak menghafal materi pelajaran tanpa memahaminya. Seperti misalnya pelajaran tentang nama-nama menteri, ini sering kami skip pemberian ujiannya.

Kesimpulannya, dalam memberikan ujian atau ulangan, saya tidak akan berpusat pada keberhasilan anak, tapi pada kebermanfaatan ujian/ulangan tersebut bagi proses belajar anak selanjutnya. Dengan begitu, ujian bukanlah menjadi sarana berbuat curang, bukan sarana untuk melakukan apapun demi nilai baik. Hasil ujian atau ulangan itu mengandung evaluasi bagi kedua pihak penyelenggara pendidikan : guru dan murid.
Wednesday, September 18, 2013

Belajar Tanpa Kurikulum? Bisa!

Skeleton... tulang... hmmm... saya sempat membaca materi anak kelas 4 SD dengan kurikulum nasional tentang IPA. Yang disajikan adalah tentang nama-nama tulang. Lalu, pertanyaan di soal-soalnya juga seputar nama tulang. Pada intinya, anak diminta untuk menyebutkan nama-nama tulang yang menyusun (misalnya) tulang tangan.... waduh maaaaak.... ini bukannya tugas mahasiswa kedokteran ya? Menurut saya, ini belum waktunya diberikan di tingkat SD.

Ya sudahlah.. biarlah kurikulum itu ya kurikulum itu... anak saya kan belajarnya tidak diarahkan kurikulum yang itu. Kami memutuskan untuk memberikan pengetahuan tentang tulang mulai dari awal, dari fungsi tulang itu sendiri. Lalu penyesuaian bentuk dan struktur tulang terhadap lingkungan hidup makhluk yang bersangkutan, misalnya ikan bentuk dan struktur tulangnya akan beda dengan burung karena cara hidup dan lingkungan hidupnya beda. Begitu juga beda antara hydrostatic skeleton dan cytoskeleton. Semua ini kami pelajari dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Skeleton. Nanti baru akan berlanjut ke tahap yang lebih detail lagi tentang tulang.

Selain science, hari ini kami belajar geografi. Materi yang kami pilih adalah angin dan tekanan udara. Materi ringan namun dibutuhkan anak, asalnya untuk menjawab pertanyaan: kenapa telinga kita sakit kalau kita bepergian ke gunung? Nah inilah kurikulum kami sebetulnya, yaitu kurikulum yang diarahkan pada pertanyaan anak. Kami ambil materi dari link ini : http://www.kidsgeo.com/geography-for-kids/0081-atmospheric-pressure.php

Lalu dilanjutkan dengan matematika, tetap setia dengan CIMT. Ada satu soal menarik, yaitu : anak diberikan angka ratusan, angka ini adalah selisih dari angka-angka lain yang diletakkan dalam posisi bertebaran, dan angka-angka lain itu harus dicari pasangannya yang jika dikurangi hasilnya adalah angka yang diberikan di awal tadi. Ribet? Nggak juga siy... hehehe :D

Keep on learning! ^_^
Thursday, July 18, 2013

Belajar Geografi Dan Science Sekaligus Dalam Satu Topik



Hari ini kami belajar geografi, science, dan math. Dalam daftar ujian paket, sebetulnya geografi belum ada, tapi karena kami tidak mengacu di kurikulum nasional saja, maka kami memasukkan geografi dalam pembelajaran anak di tingkat SD ini.

Geografi kali ini kami ambil dari National Geographic Education dari website ini kami belajar tentang map, peta interaktif untuk berbagai kategori. Peta kependudukan, sumber daya alam, iklim, juga pencemaran. Dari pembelajaran ini kami jadi paham tentang posisi Indonesia ditinjau dari aspek-aspek di atas, terhadap negara-negara lain di dunia. Dan kami memahaminya melalui image, grafik! Disinilah keuntungannya belajar melalui image, lebih mudah bagi anak kami untuk mengingat dan memahami daripada jika melalui tulisan, karena anak kami termasuk pembelajar visual.

Untuk science, kami belajar dari Planet Pals tetap pada tema green environment, bagaimana me-recycle, melestarikan bumi. Anak kami belajar tentang precycle, yaitu merecycle sebelum menggunakan, artinya : mengurangi penggunaan barang yang bahannya berbahaya untuk alam.

Kedua pelajaran ini, antara geografi dan science, ada saling keterpautan tema. Anak kami merasa sedang belajar satu mata pelajaran saja, padahal sudah dua mata pelajaran dia pelajari. Setelah itu kami belajar math, masih tetap dengan topik estimation dan soal cerita yang terkait dalam topik ini. Ketiga pelajaran ini ditempuh anak hanya dalam waktu 1 jam dengan efektif. Jadi masih banyak waktu untuk main games dan berkreasi ^_^