Copyright © The Root of Learning
Design by Dzignine

The Root of Learning

Adalah blog tentang semangat belajar seorang anak. Dalam blog ini kami dokumentasikan petualangan belajar, kurikulum, dan materi belajar yang kami gunakan. Belajar tak mengenal batasan.
Friday, May 31, 2013

Melangkahkan Kaki Menuju Tahapan Home Education Selanjutnya

Sungguh suatu kebahagiaan, ketika home education kami sudah memasuki tahap demi tahap, hingga sudah waktunya anak kami mempersiapkan diri untuk ujian persamaan. Setiap langkah ini kami lakukan dengan mandiri, tanpa dukungan lembaga homeschool mana pun. Malahan, dalam setiap langkah kami selalu terbuka untuk membantu keluarga home education yang membutuhkan sharing dari kami. Sungguh perjalanan yang luar biasa!

Kali ini, untuk ujian persamaan anak, saya membutuhkan bantuan dari lembaga pendidikan yang bernama PKBM. Oiya, ini untuk ujian persamaan di tingkat nasional, sedangkan untuk tingkat internasional akan dijalani nanti jika sudah siap, bersama lembaga yang menyediakan ujian CIE.

Kemarin saya telah mengunjungi PKBM di Surabaya, dan telah mendapat penjelasan tentang prosedurnya. Dari obrolan ini, saya pikir, PKBM ini bersih, tidak sekedar jualan ijazah, atau sekedar pasang tarif yang "aduhai". Tarifnya masih masuk di akal, prosedurnya juga tidak main-main. Saya pikir, saya telah datang ke tempat yang tepat.

OK, kami siap menjalani hari-hari selanjutnya dengan penuh perencanaan dan sistem yang lebih terstruktur. Home education kami telah memasuki masa dimana kami tak lagi sekedar memikirkan tentang field trip, sosialisasi, isu-isu ketidakmampuan mendidik, isu-isu kebimbangan tentang prosedur ujian persamaan, dan isu-isu lain yang dihadapi keluarga home education dengan anak yang masih kecil.

Kami lebih siap, lebih serius, dan lebih memikirkan masa depan. Hal-hal yang tidak kami perlukan akan kami eliminasi. Jika bukan kami sendiri yang bertindak, maka siapa lagi yang akan bertindak untuk kami? Hanya Tuhan saja!


Thursday, May 23, 2013

Empat Langkah Maju Untuk Masa Paperless


YAY! Ini lo yang kami cita-citakan dari dulu, yaitu sebuah perangkat komputer yang bisa membuat kami paperless. Kami menggunakan Ultra Mobile PC, dengan OS Windows, dan menggunakan Adobe Reader XI. Dengan software ini anak kami bisa menulis jawaban di touch screen-nya menggunakan pen-nya lalu menge-save hasil corat-coretnya itu di harddisk, sehingga tidak hilang.

Lega rasanya bisa menemukan software dan hardware yang seperti ini. Dengan begini, kami jadi punya banyak keuntungan, yaitu :

  • Menghemat pemakaian kertas, yang artinya kami mengurangi penebangan pohon.
  • Mengurangi penumpukan kertas di rumah, yang artinya kami bisa memiliki space yang lebih di rumah kami yang mungil.
Mau mengikuti jejak kami?
Monday, April 29, 2013

Jadi, Ada Berapa Macamkah Bentuk-bentuk di Permukaan Bumi?

Geografi kali ini sangat menarik. Kami belajar berbagai bentuk permukaan bumi. Yang kami pelajari kali ini ada 24 jenis. Entah apakah masih ada lagi jenisnya? Tapi 24 jenis ini sudah membuat kami amazed. Ada banyak istilah baru yang kami dapat : peninsula, gulf vs bay, mesa, strait, dan isthmus.

Seperti tampak pada gambar di bawah ini, beginilah cara belajarnya : kartu bergambar dan berdefinisi dipasangkan pada kartu namanya. Materi ini kami dapat dari Great Map Games yang dipublikasikan oleh Scholastic Teacher Express.


Selain Geografi, kami juga belajar Math. Math kali ini dari 50 Fill-in Math Word Problems seri Algebra Readiness yang juga diterbitkan oleh Scholastic Teacher Express. Sebetulnya seperti soal cerita biasa, namun soal ceritanya harus dilengkapi sendiri oleh anak. Selain mengurai persoalan matematika, worksheet ini juga mengajak anak berimajinasi dalam membuat isiannya, sekaligus juga mengajak anak belajar bahasa Inggris tentang adjective, noun, plural noun, dsb.


Kedua worksheet ini sangat bagus menurut saya, dan sesuai untuk panduan belajar anak saya. Keduanya sangat interaktif, memadukan banyak aspek belajar.

Selain kedua subject tersebut, kami juga belajar Science, tentang Habitat. Diambil dari Nonfiction Read & Write Booklets Science yang juga diterbitkan oleh Scholastic Teacher Express. Walaupun anak saya sudah banyak belajar tentang habitat, but it's ok untuk me-refresh dan mempertajam ingatannya kembali tentang habitat.

Wednesday, March 6, 2013

Huruf Besar - Huruf Kecil

Anak memang cenderung meniru orang tuanya dalam banyak hal.

Termasuk dalam membuat tulisan. Saya punya kecenderungan menulis dengan huruf besar semua. Karena, kalau saya menulis, itu artinya saya harus menulis di form resmi, yang aturannya adalah harus huruf kapital semua, atau di kertas kecil untuk daftar belanjaan yang sama sekali tidak resmi, boleh di tulis dengan cara suka-suka. Untuk tulisan yang menuntut kesesuaian dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), saya selalu menggunakan keyboard, diketik. Nah, jadi saya memang terbiasa menulis dengan huruf kapital semua.

Celakanya, kebiasaan "buruk" ini ditiru anak. Dia sulit menulis dengan huruf besar-kecil sesuai aturan EYD. Tulisannya cenderung huruf kapital semua seperti saya. Suatu hari, saya mendapati dia menempuh ujian Englishnya dengan menulis menggunakan huruf kapital semua. Waduh! Saya kena tampar niy! Ini gak boleh dibiarkan berlanjut hingga jadi kebiasaan yang sulit diubah.

Akhirnya, tiap kali dia mau belajar di kursus Englishnya, saya selalu mengingatkan untuk menulis dengan huruf besar-kecil sesuai aturan EYD. Namun, saya hanya mengingatkan dia tentang hal ini sekitar 2-3 kali pertemuan kursus, selanjutnya tidak lagi. Dan hari ini, ketika hari bahasa, saya mendapati dia membuat karya tulis (tangan) dengan huruf besar-kecil. Ternyata, tidak perlu kebanyakan mengingatkan, anak sudah bisa membentuk kebiasaan baiknya, asalkan cara mengingatkannya pun mengena. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan menunjukkan konsekuensinya jika kebiasaan buruk itu terus dilakukan.

Anak memang memiliki banyak sekali kebaikan, jika kita pun penuh kebaikan padanya.
Sunday, February 24, 2013

Ketika Kekaguman Itu Didepan Mata

"Oma, cucunya sudah bisa cuci piring makannya sendiri loh!"
"Oiya? Wah hebaaaat....!"
"Jangan gitu.... Aku tidak mau dikagumkan!"

Itu adalah dialog tadi pagi, ketika anak saya sedang cuci piring makannya dan omanya baru mengetahui bahwa dia sudah bisa cuci piring sendiri. Reaksi anak kami ini ternyata mengundang tawa tersembunyi dari sang oma, karena kami sebetulnya sudah sadar bahwa anak kami ini bukan type anak yang suka dibangga-banggakan, dipamerkan, atau diberi reaksi kekaguman. Tapi walaupun sudah tahu, kami masih sering lupa tentang hal ini. Bukan dengan sengaja kami lupa. Tapi sebetulnya dibalik itu semua kami ingin mengapresiasi prestasi barunya.

Tiap anak memang beda. Ada anak yang membutuhkan apreasiasi dari orang lain, suatu bentuk penghargaan yang membuatnya merasa berhasil. Tapi ada juga anak yang tidak ingin demikian, mereka hanya ingin bisa melakukan sesuatu tanpa harus dipamerkan atau diapresiasi secara berlebih, seperti anak saya.

Tampaknya, jika saya amati dari perilaku teman sebayanya, ini berkaitan erat dengan apresiasi yang didapat anak sejak anak baru dilahirkan. Ada kecenderungan haus akan apresiasi kebanggaan pada anak-anak yang merasa "kurang apresiasi" sejak dia masih bayi. Kurang merasakan kebanggaan orang tua ketika dia mencapai suatu prestasi sejak bayi.

Terus terang anak saya sejak bayi sudah banyak mendapatkan perhatian dan apresiasi, hingga sekarang yang terjadi adalah dia suka memberi perhatian pada orang lain dalam bentuk berusaha memenuhi kebutuhan orang lain. Seperti ketika saya butuh bantuan dia dalam mengurangi beban cuci piring saya, dia dengan senang hati belajar mencuci piring makannya. Bukan dengan maksud supaya dia mendapat ekspresi kagum, tapi supaya dia bisa memenuhi kebutuhan saya.

Nah, inilah yang akan orang tua rasakan sebagai efek positif dari pemberian kasih sayang kita pada anak sejak dia dikandung. Anak tidak butuh pemenuhan materi secara berlebihan. Anak juga tidak butuh ungkapan kasih sayang yang berlebihan. Anak hanya butuh keterlibatan kita ketika dia membutuhkan kita. Dan perasaan "membutuhkan" ini seringkali tak bisa dia ucapkan langsung, dibutuhkan kepandaian kita mengenali tiap ekspresi anak. Dan kepandaian ini hanya bisa kita dapat ketika kita benar-benar in-touch dengan kehidupannya, tidak menyingkirkan anak demi gadget maupun demi pekerjaan.

Siapkah kita belajar menyingkirkan ego demi anak? Hanya anda yang bisa menjawab. Saya harap secara tulus dan komitmen orang tua bisa melakukannya. Karena sebelumnya anak telah dititipkan Tuhan pada kita, dan kedepannya mereka adalah pengusaha bumi ini, serta bakal pengasuh kita ketika kita telah uzur. Pasti kita nanti ingin diasuh dengan tulus dan baik kan?